Lidik Batam — Seorang bayi berusia 1 tahun 2 bulan meninggal dunia setelah diduga menjadi korban kekerasan oleh pengasuhnya di Batam. Polisi mengungkap, korban berinisial MA diduga dicekik hingga terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Kasus ini terjadi di rumah pengasuh anak di kawasan Bengkong Abadi Baru, Kelurahan Tanjung Buntung, Kecamatan Bengkong, Kota Batam.
Pengungkapan dilakukan setelah penyidik mendalami laporan ibu korban, SA (20).
Kapolresta Barelang Kombes Pol Anggoro Wicaksono, mengungkapkan bahwa perkara bermula ketika SA menitipkan MA kepada pengasuh karena harus bekerja.
Polisi Ungkap Pencurian iPhone Mahasiswi di Batam, Tiga Pelaku Ditangkap
Namun pada Sabtu (22/8/2026), korban dinyatakan meninggal dunia di Puskesmas Tanjung Buntung.
Sebelum korban meninggal, tersangka berinisial TCH (29) menghubungi ibu korban. Kepada pelapor, TCH disebut menyampaikan bahwa MA terjatuh ke kolam renang.
Keterangan itu kemudian didalami polisi. Penyidik melakukan olah tempat kejadian perkara, memeriksa saksi, serta melakukan pemeriksaan forensik terhadap korban.
Hasil autopsi justru tidak menemukan tanda-tanda korban meninggal akibat tenggelam. Dokter menemukan luka pada bagian leher dan cedera akibat kekerasan tumpul.
Iran Mulai Lirik Negosiasi dengan AS, Rusia Siap Jadi Penengah
Temuan tersebut mengarahkan penyidik pada dugaan bahwa korban mengalami kekerasan sebelum meninggal dunia.
Penyidik kemudian mendalami keterangan TCH. Dalam proses pemeriksaan, tersangka akhirnya mengakui perbuatannya.
Berdasarkan hasil penyidikan, kejadian bermula saat TCH menyuapi korban. Saat itu, MA disebut terus menangis dan menolak makan.
TCH diduga emosi. Tersangka kemudian mencekik leher korban dari arah belakang menggunakan tangan kanannya.
Matangkan Operasi Patuh Seligi 2026, Polda Kepri Tekan Pelanggaran dan Kecelakaan Lalu Lintas
Korban kemudian terjatuh dan tidak sadarkan diri. Polisi juga menemukan dugaan adanya kekerasan berulang terhadap korban. Pada tubuh MA ditemukan bekas cubitan serta jaringan parut yang menunjukkan adanya luka yang telah mengalami proses penyembuhan.
Temuan itu kini menjadi bagian dari proses penyidikan untuk mengungkap secara utuh kekerasan yang diduga dialami korban.
Hasil autopsi dokter forensik RS Bhayangkara menemukan sejumlah luka pada tubuh korban. Di antaranya memar pada kepala, luka lecet pada leher dan dada.
Dokter juga menemukan perdarahan pada otak dan batang otak serta resapan darah pada jaringan leher.
Takbir Bergema di Rutan Batam, Iduladha Jadi Ruang Pembinaan Spiritual Warga Binaan
Berdasarkan kesimpulan medis, kata Anggoro Rabu (26/8/2026), Penyebab kematian berkaitan dengan kekerasan tumpul pada kepala yang mengakibatkan gangguan pusat vital.
Selain itu, ditemukan kekerasan tumpul pada leher yang polanya sesuai dengan kasus pencekikan.
Temuan forensik itu menjadi alat bukti ilmiah yang memperkuat konstruksi perkara dalam proses penyidikan.
Dengan hasil pemeriksaan tersebut, dugaan awal bahwa korban meninggal karena terjatuh ke kolam renang tidak sesuai dengan temuan medis.
Polisi Bongkar Peredaran Sabu 233 Gram di Batam, Dua Orang Ditangkap di Tiban
Polisi kemudian menetapkan TCH (29) sebagai tersangka dalam perkara kekerasan terhadap anak yang mengakibatkan korban meninggal dunia.
TCH dipersangkakan melanggar Pasal 80 Ayat (3) juncto Pasal 76C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Tersangka juga dipersangkakan dengan Pasal 466 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
Ancaman hukumannya berupa pidana penjara paling lama 15 tahun dan/atau denda paling banyak Rp3 miliar.
Bareskrim Buru Basri Lewaimang, DPO Kasus Narkoba Planet Batam






